Oleh: Donna Carollina
Di tengah dunia yang semakin riuh oleh karena krisis, ketidakpastian, dan fragmentasi sosial, WARA-WARA hadir sebagai sebuah seruan. Bukan sekedar pengumuman, melainkan maklumat yang dihadirkan untuk menggugah kesadaran kolektif. Kesadaran yang tidak netral dimana seni tidak pernah hadir dalam ruang hampa, melainkan selalu berkelindan dengan kondisi sosial, politik, dan kultural yang melingkupinya. Dalam konteks ini, WARA-WARA lahir atas kegelisahan nyata akan kekuasaan yang rakus, kemanusiaan yang tereduksi, dan kehidupan yang terus-menerus dinegosiasikan dengan dan dalam tekanan global maupun lokal. Menempatkan WARA-WARA dalam konteks pameran untuk melampaui fungsi informatifnya bila merujuk dari arti harafiahnya dalam bahasa Jawa, dan menjelma sebagai bentuk artikulasi kolektif. Seruan yang lahir dari kegelisahan bersama terhadap situasi yang dihadapi hari ini. Dalam lanskap ini, seni visual jalanan tampil sebagai bahasa yang tidak meminta izin. Ia cukup hadir, melekat, berbicara, bahkan mengganggu. Ia adalah bentuk visual yang tidak tunduk dan justru disitulah ia bekerja, langsung di ruang publik sebagai bentuk artikulasi sekaligus intervensi.
Berangkat dari kerangka tersebut seni visual jalanan tidak dapat diposisikan hanya sekedar sebagai praktik visual yang ekspresif dan estetik semata. Melainkan sebagai tindakan sosial yang bekerja langsung di ruang publik. Ia tidak menunggu legitimasi, tidak bergantung pada institusi, dan tidak berjarak dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir sebagai bahasa, yang menempel pada tembok kota, bernegosiasi dengan ruang, serta berinteraksi dengan siapapun yang melintas. Karakternya yang hadir langsung dan tidak dimediasi muncul di tengah arus kehidupan sehari-hari. Ia ditampilkan di ruang publik sekaligus dibentuk oleh ruang publik. Dan sekali lagi, ia adalah visual yang tidak tunduk, dan bekerja langsung di ruang publik sebagai bentuk artikulasi sekaligus intervensi.
Namun, di balik kehadiran itu, terdapat sesuatu yang seringkali luput dari pengalaman pembacaan. Sebuah suasana yang hangat, cair, dan menghidupkan. Kondisi yang dalam pengalaman kultural Jawa disebut dengan gayeng.
Gayeng, bukan semata soal keramaian. Gayeng adalah kelekatan sosial, rasa hadir bersama, dan pengalaman berbagi ruang tanpa sekat hierarkis yang kaku. Gayeng adalah momen ketika percakapan mengalir tanpa beban, ketika interaksi terjadi secara spontan, dan ketika relasi sosial dibangun melalui kedekatan, bukan jarak. Dalam pengertian ini, gayeng bukan hanya atmosfer, melainkan sebuah modus relasi. Cara hidup bersama yang terus diproduksi dan dihadirkan dalam praktik keseharian. Dan gayeng inilah yang diamini oleh para pelaku seni visual jalanan di Yogyakarta.
Gayeng yang menjadi etos hidup di antara mereka. Tidak selalu diucapkan, namun terus dijalankan. Bahwa berkarya di jalanan bukan hanya soal menghasilkan visual, melainkan tentang gayeng-gayengan. Hadir bersama, berbagi ruang, dan menciptakan interaksi. Proses yang menjadi sama pentingnya dengan hasil, bahkan seringkali lebih bermakna. Seni visual jalanan tumbuh bukan lagi dalam logika kompetisi, melainkan dalam logika kebersamaan yang cair dan terbuka.
Gayeng disini menjadi ekosistem itu sendiri.
Bila ditinjau dalam perspektif kajian sosial-budaya, gayeng disini dapat dibaca sebagai bentuk reproduksi nilai kolektif yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Yogyakarta. Namun, yang menarik adalah bagaimana nilai tersebut tidak hadir dalam bentuk yang nostalgik. Melainkan dalam bentuk yang adaptif. Menyatu dengan dinamika perkotaan, dengan ritme kota, dan dengan kompleksitas kehidupan kontemporer. Seni visual jalanan dalam hal ini menjadi medium yang mampu menjembatani antara tradisi dan modernitas, lokalitas dan globalitas.
Dan bila ditinjau dalam perspektif kajian budaya material, praktik gayeng memperlihatkan bahwa seni visual jalanan bukan sekedar objek visual, melainkan peristiwa sosial yang melibatkan tubuh, ruang, dan waktu. Tembok menjadi medan interaksi. Cat menjadi medium afeksi. Gestur menggambar menjadi tindakan sosial. Seluruh fragmen ini menjelaskan bahwa setiap karya adalah jejak kehadiran. Kehadiran yang tidak hanya milik seniman, namun juga milik mereka yang menyaksikan, menanggapi, dan terlibat.
Dan kembali lagi, peristiwa ini hampir selalu bersifat gayeng.
Ketika seorang seniman jalanan mulai menggambar di ruang-ruang publik kota. Satu orang berhenti. Dua orang ikut melihat. Seseorang bertanya, yang lain menimpali. Tawa kecil muncul. Komentar mengalir. Tidak ada batas yang jelas antara pencipta dan penonton. Dalam momen ini, seni tidak lagi berada dalam posisi representasi, melainkan dalam posisi relasi. Interaksi spontan ini kerap
mempersempit jarak antara seniman dan masyarakat. Bahkan membuka kemungkinan kolaborasi yang tidak terduga.
Kembali ke WARA-WARA.
Dalam pameran ini, dimensi gayeng ini tidak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai realitas yang terwujud melalui keterlibatan 21 seniman dan 4 kolektif maupun proyek kesenian yang hidup dalam ekosistem seni visual jalanan Yogyakarta. Kehadiran 21 seniman membawa jejak praktik yang tidak hanya beragam secara visual, namun juga kaya secara sosial. Di saat yang bersamaan, kehadiran kolektif dan proyek seni visual jalanan ini menegaskan bahwa kerja kolaboratif bukanlah pengecualian, melainkan fondasi dari praktik ini. Keberagaman ini tidak menghasilkan fragmentasi, melainkan kembali lagi membentuk sebuah ekosistem yang hidup. Sebuah ruang sosial yang bekerja dengan prinsip gayeng. Tidak ada upaya untuk menyeragamkan gaya, tidak ada tuntutan untuk menyatukan bahasa visual. Yang ada justru adalah penerimaan terhadap perbedaan, yang kemudian dirajut melalui kebersamaan. Dalam kerangka ini, pameran bukan hanya ruang presentasi, tetapi juga ruang pertemuan. Sebuah medan dimana praktik-praktik yang sebelumnya tersebar di jalanan kota Yogyakarta, dipertemukan dalam satu konteks, tanpa kehilangan akar sosialnya.
Fenomena ini lagi-lagi dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi nilai kolektivitas dalam konteks urban kontemporer. Jika dalam masyarakat tradisional kebersamaan diwujudkan melalui praktik gotong royong, maka dalam seni visual jalanan Yogyakarta, kebersamaan ini muncul dalam bentuk nongkrong sambil berkarya, dalam kerja spontan, dalam relasi yang tidak diatur oleh struktur formal. Gayeng, dalam hal ini, menjadi bentuk kontinuitas kultural sekaligus transformasi.
Meskipun terasa bak romansa, gayeng bukanlah sebuah kondisi yang bebas dari kondisi ketegangan. Ia justru menjadi ruang dimana perbedaan dinegosiasikan. Dalam praktik seni visual jalanan, ruang publik selalu berada dalam tarik-menarik antara kebebasan ekspresi dan kontrol otoritas. Dalam situasi ini, gayeng tidak menghapus konflik, namun memungkinkan konflik itu dihadapi tanpa memutus relasi.
Gayeng adalah cara untuk tetap bersama, bahkan ketika ruang bersama itu diperebutkan.
Dalam konteks global yang ditandai oleh kekerasan, eksploitasi, dan ketidakadilan, sebagaimana menjadi latar narasi dari WARA-WARA, praktik-praktik yang mampu merawat kebersamaan menjadi semakin penting. Seni visual jalanan di Yogyakarta menunjukkan bahwa kritik tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang keras dan berjarak. Ia bisa hadir dalam bentuk yang akrab, dalam percakapan, dalam interaksi yang tampak sederhana, tetapi memiliki resonansi yang dalam. Di tengah itu semua, gayeng-gayengan menjadi lebih dari sekedar kebiasaan. Ia menjadi strategi kultural. Ia menjaga agar praktik seni visual jalanan tetap dekat dengan masyarakat, tetap relevan, dan tetap hidup. Ia memastikan bahwa seni tidak terlepas dari konteks sosialnya, namun justru tumbuh darinya.
Pada akhirnya, WARA-WARA tidak hanya berbicara mengenai seruan terhadap kondisi darurat, namun juga tentang bagaimana kita meresponsnya. Tidak hanya dengan kemarahan, tetapi juga dengan kebersamaan. Tidak hanya dengan kritik, tetapi juga dengan perjumpaan. Di antara garis-garis yang tegas, warna-warna mencolok, serta pesan-pesan yang menggugah, terdapat sesuatu yang lebih halus namun tidak kalah penting yaitu rasa. Sebuah rasa yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan, tetapi dapat dengan mudah dikenali ketika kita mengalaminya. Sebuah rasa yang dalam bahasa yang sederhana namun penuh kedalaman yang kita sebut sebagai gayeng.
Donna Carollina adalah seorang penulis dan penikmat seni.