to all Words

Pengantar Pameran

“Kesadaran Kolektif adalah Senjata Terkuat untuk Melawan Penindasan.” — Tan Malaka

WARA-WARA berasal dari bahasa Jawa yang berarti pengumuman, pemberitahuan, atau maklumat yang ditujukan kepada banyak orang. Istilah ini sering digunakan untuk menyampaikan informasi penting, ajakan, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam konteks pameran ini, WARA-WARA bukan hanya sekedar pengumuman, melainkan menjadi seruan, peringatan tentang kondisi darurat bangsa dan dunia.

Seruan akan ketidakpastian dan gerakan sosial.

Tahun dengan cepat berganti, di mana informasi begitu masif masuk menyelinap di kepala. Berita- berita menggugah kesadaran untuk merenungkan kembali apa arti kebersamaan dan solidaritas. Setiap hari penguasa mempertontonkan kerakusan, tanpa rasa malu mereka merekayasa hukum dan undang- undang untuk melanggengkan oligarki, mengeruk kekayaan alam untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Kemanusiaan hanyalah topeng penguasa untuk mengontrol Rakyat dan alat untuk mengeksploitasi habis sumber daya alamnya. Saat ini kita tidak hanya mengalami pembungkaman, tetapi juga menyaksikan langsung ancaman, pembantaian dan kematian serta penjarahan besar-besaran kekayaan alam yang menimbulkan bencana di hampir seluruh wilayah Nusantara. Sebuah realitas menyedihkan tersuguh nyata di depan mata.

Di tataran global, negara-negara adidaya saling unjuk kekuatan. Kemutakhiran senjata dan ancaman perang menjadi alat “negoisasi”, seolah tak ada lagi celah berunding dengan kepala dingin. Hingga pada akhirnya mesin perang menyalak, meluluh- lantakkan peradaban, harapan dan kehidupan. Lagi- lagi, demi ambisi kekuasaan dan kekayaan.

Lalu, bagaimana peran seni hari ini? Bagaimana karya seni mampu berkontribusi menyuarakan keberpihakan? Bagaimana seniman tidak hanya bekerja di studio, tetapi melebur bersama masyarakat.

Pameran WARA-WARA mengundang 21 seniman dan 4 kolektif yang selama ini mendedikasikan diri berkarya di ranah seni jalanan (street art).

Street art dengan segala kesederhanaanya mampu bersanding akrab dan ramah dengan komunitas masyarakat marjinal, namun di lain waktu ia bisa menjadi corong kritis dan senjata visual yang menggelisahkan penguasa.

Street artists yang diundang dalam pameran ini merupakan seniman dengan berbagai keragaman teknis, gaya, dan gagasan. Karya visual mereka tersebar di seantero kota Jogja dan sekitarnya, bahkan di luar Indonesia. Tidak melulu bicara tentang politik, atau isu-isu populer, bagi para street artist, jalanan adalah bidang gambar yang akan terus mereka eksplorasi. Interaksi dengan warga yang kebetulan melihat street artist sedang berkarya mampu menciptakan komunikasi yang mempersempit jarak antara seniman dan masyarakat serta acap kali menghasilkan sebuah kolaborasi.

Jadi, dalam pameran WARA-WARA, bentuk kepedulian dan kontribusi terhadap permasalahan- permasalahan bangsa maupun global tidak kemudian memaksakan seniman merubah gaya atau karakter visual. Visual hanyalah bagian dari proses kreatif mereka yang panjang dan tentu saja sebelumnya telah melibatkan lingkungan sosial di sekitar mereka.

Street art dengan keragaman teknis, visual dan gagasannya akan selalu hadir berpihak kepada kemerdekaan manusia, seperti graffiti-graffiti di era revolusi kemerdekaan atau karya-karya mural di reruntuhan bangunan di daerah perang.

WARA-WARA menjadi maklumat bersama akan persaudaraan dan cinta untuk hari ini, esok dan selamanya.

WARA-WARA merupakan penegasan bahwa kemanusiaan adalah nilai tertinggi dari kehidupan.

WARA-WARA merupakan bara menyala yang terus menerangi kegelapan dan memunculkan harapan, sekaligus sebagai ekspresi kekecewaan dan kemarahan terhadap penguasa yang tamak dan rakus.

Pameran WARA-WARA mengajak kita, seniman, sebagai salah satu elemen kehidupan untuk turut andil dalam memperjuangkan perubahan bagi tatanan bangsa dan dunia yang lebih adil.

Salam WARA-WARA…

© WARA-WARA 2026 • Some Rights Reserved